
Foto: Seorang pekerja perempuan PT Korintiga Hutani sedang bekerja di bagian persemaian
KOTAWARINGIN BARAT – Kehadiran PT Korintiga Hutani memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat di desa-desa sekitar wilayah operasionalnya, terutama dalam aspek penyediaan lapangan kerja. Kesempatan kerja yang terbuka lebar di sektor perkebunan maupun unit-unit pendukung lainnya disambut antusias oleh warga setempat.
“Sangat jelas sekali dampaknya atas kehadiran perusahaan dan sangat positif. Kami sebagai warga di sini benar-benar merasakan manfaatnya. Banyak dari kami yang sekarang bekerja sebagai karyawan di Korintiga Hutani. Kehadiran perusahaan ini membuka peluang kerja yang sebelumnya sulit kami dapatkan,” ujar Anton, warga desa Riam.
Menurut Kepala Desa Riam Dedy Simson, PT Korintiga Hutani memang memberikan prioritas kepada warga desa di sekitar area perusahaan untuk bekerja di sana. Semuanya tertuang dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT), di mana dalam rapat tersebut tiap desa boleh memasukkan beberapa orang untuk bekerja di perusahaan. Biasanya, warga desa mengajukan untuk mengisi posisi sebagai pekebun.
“Dari RKT setiap tahun kita diundang. Dan di situ kita dikasih prioritas. Tiap desa boleh memasukkan satu sampai dua orang itu untuk bekerja di KTH. Dan itu memang di realisasi kan,” tuturnya.
Kebijakan perusahaan untuk memprioritaskan rekrutmen bagi penduduk desa sekitar tidak hanya membantu menekan angka pengangguran, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi produktif. Dengan memberikan akses kerja yang adil dan prioritas bagi penduduk lokal, KTH turut membangun perekonomian daerah tanpa harus meninggalkan pihak manapun.
Namun demikian, perusahaan juga memiliki program dengan nilai ekonomi yang tinggi, bernama Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Program HTR di memiliki skema yang sederhana namun berdampak besar. Di mana masyarakat hanya perlu menyediakan lahan sementara seluruh proses pengelolaan lahan, mulai dari penyediaan bibit, penanaman hingga panen akan dilakukan oleh PT KTH. Namun demikian perusahaan juga tetap membayar upah jika si pemilik ikut membantu pengelolaan lahan.
Menurut Dedy, program HTR dari PT KTH amat diminati oleh masyarakat setempat bahkan jika dibandingkan dengan berkebun kelapa sawit. “Karena kalau menggunakan sawit, otomatis perawatannya harus banyak. Jadi warga kami juga kesulitan untuk mengelola hal tersebut. Apalagi warga kami ini tidak semuanya warga yang muda-muda. Ada yang sudah tua,” jawabnya.
Kebijakan-kebijakan tersebut menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal serta menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan dan komunitas di sekitarnya. Program-program perusahaan bertujuan untuk meringankan, bagi warga yang sudah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik. Apalagi banyak juga perempuan kepala keluarga dan yatim piatu yang terbantu lewat program ini. (PR)
